Selasa, 03 Mei 2016

Mobile Marketing




MOBILE MARKETING

Ref: http://www.telkomsolution.com/news/mobile-marketing-semakin-dilirik-ketimbang-traditional-marketing
                Seiring berkembangnya zaman, semua aktivitas yang kita jalani saat ini tentunya tidak lepas dari yang namanya “teknologi”. Setiap aktivitas baik itu dari mulai dari pagi hingga malam, selalu saja kita tidak dapat terpisah dari kata tersebut, tapi seperti apa teknologi yang kita bicarakan tersebut?
                Mudah saja, kita contohkan dari Handphone atau yang kita biasanya disebut “HP” merupakan salah satu kemajuan teknologi saat ini. Di mana hampir semua aktivitas seperti informasi, komunikasi, kebutuhan, dan lainnya, semua ada dalam perangkat satu ini. Dan kebanyakan masyarakat memanfaatkan teknologi tersebut untuk berkomunikasi, salah satunya yang kita ketahui yaitu media sosial atau yang biasa dikenal dengan istilah “sosmed”, seperti LINE, BBM, WhatsApp, Instagram, dan lainnya.
                Biasanya aplikasi di atas tersebut digunakan untuk berkomunikasi semata, namun seiring berkembangnya zaman, aplikasi tersebut bisa digunakan untuk berbisnis, dan inilah yang akan membawa kita ke topik utama kita, yaitu “mobile marketing”. Mobile marketing itu apa sih?? Simak penjelasannya
                Mobile marketing adalah sistem pemasaran yang menggunakan media mobile sebagai tempat promosi atau periklanannya atau dengan menggunakan sistem aplikasi khusus. Di sini, perusahaan dapat membuat iklan dengan menggunakan media berupa aplikasi yang terdapat dalam mobile, salah satunya media sosial, bahkan beberapa diantaranya mengembangkan sejenis web khusus berbasis aplikasi mobile hingga menciptakan sebuah aplikasi khusus untuk memasarkan produknya dan mempermudah pencarian informasi kepada konsumen. Beberapa fitur komunikasi diantaranya seperti telepon dan SMS juga merupakan penerapan dari Mobile Marketing
               
                Beberapa perusahaan besar memanfaatkan mobile marketing ini di antaranya yaitu McDonalds, Unilever, dan lainnya. Tentunya tujuannya tidak lain adalah memperluas pemasaran dan menjaring pelanggan baru.
                Menurut data, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pengguna smartphone yang cukup besar, yaitu sekitar 65,2 juta orang, bahkan jumlah tersebut akan terus bertambah setiap tahunnya. Dengan jumlah pengguna sebanyak itu tentunya akan membuat persaingan dalam mobile marketing semakin tinggi. Bagaimana tidak, hampir semua masyarakat Indonesia menggunakan mobile sebagai media pelayanannya
                Kita ambil contoh dari aplikasi online yang saat ini sedang nge-tren yaitu GoJek dan Grab. Kedua aplikasi tersebut merupakan salah satu aplikasi transportasi online yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, dan tentunya semua pengguna aplikasi tersebut menggunakan smartphone. Dan kedua perusahaan aplikasi tersebut memberikan berbagai pelayanan dan promosi setiap periodenya guna memasarkan produknya agar dikenal masyarakat dan menambah jumlah penggunanya.
                Dalam penggunaannya, mobile marketing mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi pengguna barang/jasa, berikut keunggulan menggunakan mobile marketing:
·         Dengan adanya mobile marketing perusahaan dengan mudah memasarkan produknya secara luas, bahkan hingga ke luar wilayah
·         Memudahkan pengguna dalam mencari atau mengetahui informasi mengenai produk barang/jasa yang ditawarkan
·         Mobile marketing merupakan salah satu contoh kemajuan teknologi yang tentunya mempermudah pelayanan konsumen dalam beberapa hal tertentu.
Selain itu, ada beberapa alasan mengapa perusahaan menerapkan sistem pemasaran satu ini, diantaranya sebagai berikut:
1.     Aplikasi berbasis mobile marketing lebih mempermudah perusahaan dalam mendekati konsumen
Tentunya, karena hampir seluruh masyarakat Indonesia merupakan pengguna smartphone, oleh sebab itu perusahaan yang memakai sistem mobile marketing lebih mudah menarik konsumen
2.    Informasi atau pengadaan promosi secara mobile marketing lebih memikat konsumen
Apabila ada SMS/Chat dari suatu perusahaan mengenai informasi produk baru atau promosi, tentunya akan menimbulkan ketertarikan pada konsumen dalam membeli barang/jasa tersebut.
3.      Pemasaran ini menggunakan metode “estafet” yang akan membuat perusahaan semakin dikenal
Maksud dari pemasaran estafet ini adalah ketika suatu perusahaan memberikan informasi mengenai promo yang diadakan, maka secara tak langsung konsumen akan menyebarkan promo tersebut kepada keluarga/teman yang dia kenal, dan hal ini akan terus menyebar dan menyebar dan membuat konsumen semakin bertambah
4.      Sistem pemasaran ini memiliki banyak cara pendekatan yang dapat dikembangkan secara spesifik
Sistem ini memiliki beragam cara dalam pendekatan terhadap konsumennya, dan dapat dikembangkan secara spesifik pula. Misalnya, pendekatan secara khusus bagi mereka yang berminat menggunakan barang/jasa atau pendekatan bagi konsumen yang radarnya jauh dari perusahaan tersebut, dan beberapa pendekatan lainnya yang bisa dikembangkan.

                Nah, mungkin seperti itulah penjelasan mengenai mobile marketing, dan tentunya masih banyak cara perusahaan dalam memasarkan produknya.
                Dan buat kalian yang berminat dalam membuat bisnis, kenapa gak coba memakai sistem pemasaran satu ini? Kalian bisa mulai dari penggunaan media sosial sebagai media iklan pemasaran kalian.. Yang penting 100% hasil kerja keras kalian yaa.. Selamat mencoba ^^

Senin, 02 Mei 2016

Sejarah Ekonomi Indonesia

PEREKONOMIAN INDONESIA

 TUGAS SOFTSKILL 6


NAMA                              : MUHAMMAD ANDHIKA PRATAMA

KELAS                              :1EB14

NPM                                  : 24215501
DOSEN PEMBIMBING : SULASTRI



SEJARAH EKONOMI INDONESIA

            Indonesia memiliki beragam cerita mengenai sistem ekonomi yang dianut, bahkan sebelum Indonesia merdeka, perekonomian di Indonesia sudah mulai berlangsung. Namun perlu diketahui, perekonomian di Indonesia mulai terlihat semenjak Belanda menjajah negeri kita ini, hal ini disebabkan Belanda tidak hanya menjajah, namun juga melakukan perdagangan di Indonesia. Oleh karena itulah, tingkat ekonomi sudah dapat diukur mulai dari peristiwa tersebut. Untuk mengetahui lebih jelasnya lagi, kita akan mengetahui lebih dalam mengenai sejarah perekonomian yang terjadi di Indonesia mulai dari zaman pro-kolonialisme hingga saat ini, berikut penjelasannya.

             A.         SEJARAH PRA-KOLONIALISME
Sebelum zaman penjajahan, diketahui negara kita ini ternyata menyimpan banyak misteri, salah satunya Atlantis yang merupakan tempat asal mula peradaban dunia. Semua berawal dari penemuan seorang geolog nuklir dari Brazil yang bernama Professor Arysio, dan kemudia diperkuat oleh Openheimer yang menyebut Indonesia sebagai “eden from east“ (surga dari timur), karena kemajuan dan keelokannya yang luar biasa.
Selain itu, diketahui nenek moyang kita telah menempuh perjalanan berat hingga ke Afrika. Hal ini dibuktikan dengan penemuan berbagai situs peninggalan di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, di mana terdapat kemiripan dengan situs-situs pada negara tersebut. Pada fase selanjutnya, yaitu masa kerajaan Samudera Pasai, Sriwijaya, dan Majapahit sudah berhubungan dagang dengan banyak bangsa lain di berbagai belahan dunia.
Perekonomian pun terus berkembang dengan adanya pedagang Arab yang juga membawakan ajaran agama Islam telah turut memajukan kegiatan sektor perniagaan dan pelayaran serta pasar-pasar sebagai tempat perdagangan dan syiar mulai bermunculan. Perkembangannya pun turut mendorong berkembangnya Kesultanan dan Kesunanan yang menjadi kekuatan politik baru di Pulau Jawa, Sumatera, dan Maluku
Namun pada tahun-tahun berikutnya, datanglah para petualang seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda dan langsung menguasai perekonomian nusantara melalui monopoli perdagangan dan penguasaan komoditi, pasar, dan tenaga kerja Indonesia. Hal ini menyebabkan dimulainya era baru kolonialisme ekonomi di hampir seluruh wilayah nusantara dan menyebabkan perubahan sistem ekonomi yang disertai perlawanan tiada henti oleh pahlawan bangsa.
Sejarah ekonomi Indonesia pasca penjajahan sendiri dibagi menjadi tiga sistem, yaitu sistem monopoli VOC, sistem tanam paksa, dan sistem kapitalis-liberal.

                        B.         SISTEM MONOPOLI VOC
 VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (1602-Akhir 1799) merupakan perusahaan yang menerapkan sistem monopoli dalam membeli komoditi-komoditi perdagangan seperti rempah-rempah, sehingga harganya tertekan karena ditetapkan sepihak oleh VOC. Meskipun bukan pemerintah penjajah Belanda, namun kehadiran VOC justru membuat kerugian bagi bangsa Indonesia, terutama petani pada masa itu. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia merasa VOC mempunyai kekuasaan dan daya-paksa seperti pemerintah.
Namun, VOC memiliki kebangkrutan pada tahun 1799 dan menyebabkan kepemerintahan Belanda terhenti sementara (1811-1816) dan penguasaan Indonesia diambil alih oleh Inggris pada saat Belanda diduduki Jerman, dan pemerintah Belanda mengungsi ke Inggris. Dan pada saat itu, Letnan Gubernur Thomas Robert Raffles memperkenalkan “sistem sewa tanah” untuk mengefisienkan tanah jajahan. Sistem ini tidak segera diambil alih oleh pemerintah penjajah Belanda setelah Indonesia diseahkan kembali kepada Belanda



            C.        SISTEM TANAM PAKSA
Pada tahun 1830, pemerintah Belanda hampir mengalami kebangkrutan karena terlibat dalam dua perang besar, yaitu Perang Diponegoro (1825-1830) dan Perang Padri (1821-1837). Karena hal tersebut, Gubernur Jendral Van den Bosch mendapatkan izin untuk melaksanakan sebuah sistem, yaitu “Culture Stelsel” atau yang dikenal dengan istilah sistem Tanam Paksa. Tujuan utamanya tidak lain untuk mengisi kas pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah yang besar.
Tentunya, sistem ini dinilai cukup berat bagi rakyat Indonesia saat itu, dikarenakan petani harus menanam tanaman tertentu dan menjualnya pada harga yang ditetapkan kepada pemerintah, serta penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 73 hari dalam setahun pada kebun-kebun milik pemerintah. Hal ini mengakibatkan produksi pangan rakyat merosot dan timbul kelaparan di berbagai tempat di Jawa. Meskipun kas pemerintah Belanda mengalami surplus, namun sistem ini akhirnya dihapus pada tahun 1870 setelah mendapat protes keras dari berbagai kalangan di Belanda

            D.        SISTEM EKONOMI KAPITALIS-LIBERAL
Sistem terakhir yang dianut pada zaman penjajahan adalah sistem ekonomi kapitalis-liberal. Dari kata “kapitalis” maupun “liberal”, kita dapat mengetahui bahwa sistem ini bukan lagi diatur oleh pemerintah, melainkan diatur oleh pengusaha swasta, namun tetap diawasi oleh pemerintah melalui peraturan per-undang-undangan. Undang-undang pertama yang menandai sistem baru ini adalah UU Agraria tahun 1870, “yang memperbolehkan perusahaan-perusahaan perkebunan swasta menyewa lahan-lahan yang luas untuk jangka waktu 75-99 tahun, untuk ditanami tanaman keras seperti karet, the, kopi, kelapa sawit, sawi, atau untuk tanaman semusim seperti tebu dan tembakau.
Pada saat tanaman-tanaman perdagangan tersebut mulai dikembangkan, di beberapa daerah rakyat sudah terlebih dahulu menanamnya, dan mengakibatkan terjadinya persaingan antara perkebunan besar dengan perkebunan rakyat. Hal ini tentunya mengundang masalah peran bagi pemerintah. Di mana satu pihak pemerintah ingin perusahaan mendapat keuntungan besar sehingga pemerintah mendapat keuntungan berupa pajak perseroan atau pajak pendapatan, namun di pihak lain penduduk pribumi (perkebunan rakyat) yang sudah terlebih dahulu mengembangkan tanaman-tanaman tersebut “tidak boleh dirugikan” terutama pemasaran hasilnya. Tentunya pemerintah lebih mementingkan kemakmuran rakyat dan oleh sebab itu pemerintah terus-menerus mengawasi hubungan antara keduanya, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

 E.         ERA PENDUDUKAN JEPANG
Setelah Belanda menyerah, Jepang mengambil alih penjajahan Indonesia. Selama kepemerintahannya dan awal kemerdekaan, keadaan ekonomi rakyat semakin berkembang dengan adanya pemasaran dari dalam hingga luar negeri. Salah satu komoditi terbesarnya yaitu tebu, yang juga mulai berperan besar dalam penyumbangan produksi gula merah baik itu untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Namun, pada thun 1975 pemerintah mengeluarkan putusan mengenai Inpres No. 9/1975 tentang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) yang melarang pabrik-pabrik gula (baik pemerintah atau swasta) menyewa lahan milik petani. Sayangnya, kebijakan ini gagal total karena mengabaikan kenyataan pemilikan tanah rakyat yang sudah sangat sempit dan akhirnya dicabut pada tahun 1998.
F.                  CITA-CITA EKONOMI MERDEKA
Untuk mewujudkan pembangunan Indonesia, maka harus didasarkan pada cita-cita awal kemerdekaan. Menurut Muh. Hatta, ada tiga soal yang berkaitan dengan pembangunan di seluruh dunia, diantaranya:
·         Soal ideologi: bagaimana mengadakan susunan ekonomi yang sesuai dengan cita-cita tolong menolong
·         Soal praktik: politik perekonomian apa yang praktis dan perlu dijalankan dengan segera di masa yang akan datang
·    Soal koordinasi: bagaimana mengatur pembangunan perekonomian Indonesia supaya pembangunan itu sejalan dan berhubungan dengan pembangunan di seluruh dunia
Dalam hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sistem ekonomi yang dianut Indonesia sebelum kemerdekaan sangatlah tidak relevan dengan nilai-nilai Pancasila dan tidak adanya koordinasi baik itu dari pemerintah maupun masyarakat.
Seiring berkembangnya zaman, paradigma pembangunan Indonesia terus ditingkatkan setiap tahunnya, terutama pada sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah namun sumber daya manusianya sangat rendah,. Hal tersebut tentunya mempengaruhi tingkat perekonomian, oleh sebab itu dibutuhkannya tiga soal pembangunan yang sudah dijelaskan sebelumnya dan adanya peran dari pemerintah dan masyarakat sehingga mewujudkan perekonomian Indonesia yang sejahtera.
G.                EKONOMI INDONESIA SETIAP PERIODE PEMERINTAHAN, ORDE LAMA, DAN ORDE BARU
Setelah kemerdekaan Indonesia, sejarah perekonomian Indonesia masih terus berlanjut dan berikut keadaan ekonomi Indonesia pada periode pemerintahan orde lama dan orde baru.
·         Pemerintahan Orde Lama (1950 – 1966)
Pada periode ini menggunakan sistem ekonomi demokrasi liberal (1949-1956) dan terjadi transisi ke sistem politik yang disebut “demokrasi terpimpin”. Sayangnya sistem ini menyebabkan kehancuran politik dari perekonomian nasional yang disebabkan banyaknya partai politik yang ada dan semuanya ingin berkuasa, sehingga terjadi konflik antarpartai politik.
·         Pemerintahan Orde Baru (1966 – Mei 1998)
Pada periode ini pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pembangunan ekonomi dan sosial di tanah air dan menjalin kembali hubungan baik dengan pihak Barat, serta Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga dunia lainnya, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
 REFERENSI:

·     Santosa, Awan. 2013. Perekonomian Indonesia: Masalah, Potensi, dan Alternatif Solusi. Yogyakarta: Graha Ilmu
·        Tambunan, Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia: Teori dan Temuan Empiris. Jakarta: Ghalia Indonesia
·         http://farhaanahramadhani.blogspot.co.id/2015/04/cita-cita-ekonomi-merdeka.html