Kamis, 09 Juni 2016

Kemiskinan dan Kesenjangan

PEREKONOMIAN INDONESIA

 TUGAS SOFTSKILL 7


NAMA                              : MUHAMMAD ANDHIKA PRATAMA

KELAS                              :1EB14

NPM                                  : 24215501
DOSEN PEMBIMBING : SULASTRI



KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini, begitu banyak hal-hal yang harus dihadapi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia lebih sejahtera. Dari semua permasalahan yang terjadi, kemiskinan serta kesenjangan pada masyarakat merupakan dua hal yang tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan perekonomian yang lebih baik. Namun sebelumnya apakah itu kemiskinan dan kesenjangan? Adakah pengaruhnya bagi perekonomian Indonesia? Berikut penjelasannya.
A.                KONSEP DAN PENGERTIAN KEMISKINAN
Kemiskinan merupakan hal yang selalu kita dengar setiap waktunya, dan terkadang sering dihubungkan dengan kesenjangan. Namun, apakah kemiskinan dan kesenjangan itu sama? Atau mempunyai suatu hubungan yang sama?
Definisi kemiskinan secara umum adalah keadaan di mana terjadinya ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan lainnya.
 Konsep kemiskinan sendiri dapat dilihat dari dua sisi yaitu kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut. Kemiskinan absolut dan relatif adalah konsep kemiskinan yang mengacu pada kepemilikan materi yang dikaitkan dengan standar kelayakan hidup seseorang atau sekitarnya. Kedua istilah itu menunjuk pada perbedaan sosial (sosial distinction) yang ada dalam masyarakat berangkat dari distribusi pendapatan.
Perbedaannya adalah dalam kemiskinan absolute, ukurannya sudah terlebih dahulu ditentukan dengan angka-angka nyata (garis kemiskinan) dan atau indikator atau criteria yang digunakan, sementara pada kemiskinan relatif kategori kemiskinan ditentukan berdasarkan relatif tingkat kesejahteraan antar penduduk.


B.                GARIS KEMISKINAN
Garis kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukup di suatu negara. Garis kemiskinan berguna sebagai perangkat ekonomi yang dapat digunakan untuk mengukur rakyat miskin dan mempertimbangkan pembaharuan sosio-ekonomi, contohnya seperti program peningkatan kesejahteraan dan asuransi pengangguran untuk menanggulangi kemiskinan.

C.                PENYEBAB DAN DAMPAK KEMISKINAN
Kemiskinan dapat dilihat atau dihubungkan dengan beberapa penyebab sebagai berikut:
·         Penyebab individual atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan seseorang
·         Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga atau jumlah anggota yang tidak sebanding dengan pendapatan keuangan keluarga
·         Penyebab sub-budaya, yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar
·         Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi
·         Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial

Serta kemiskinan sendiri dapat menyebabkan beberapa dampak yang tentunya dapat merugikan perekonomian negara maupun masyarakatnya, yaitu:
1.      Tingkat pengangguran semakin tinggi
2.      Tingkat kriminalitas semakin tinggi
3.      Harapan pendidikan semakin rendah dan banyak yang mengalami putus sekolah
4.      Harapan kesehatan semakin rendah dan banyak rakyat miskin yang sulit mendapatkan akses kesehatan
5.      Buruknya generasi penerus bangsa

D.                PERTUMBUHAN, KESENJANGAN, DAN KEMISKINAN
·       Hubungan Pertumbuhan dengan Kesenjangan
Hipotesis Kuznets menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan tingkat kemiskinan meningkat dan pada tahap akhir pembangunan tingkat kemiskinan menurun.
Dari penelitian tersebut ditemukan kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita dalam kurva yang berbentuk huruf U terbalik. Kurva tersebut menggambakan terjadinya evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari ekonomi pedesaan (pertanian) ke ekonomi perkotaan (industri)
·       Hubungan antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pertumbuhan output agregat PDB atau Pendapatan Nasional maupun pertumbuhan output sektoral terhadapa pengurangan jumlah orang miskin. Ravallion dan Datt (1996) di India menemukan bahwa pertumbuhan output di sektor-sektor primer (pertanian) jauh lebih efektif terhadap penurunan kemiskinan dibandingan sektor-sektor sekunder. Kakwani (2001) di Filipina menyatakan bahwa peningkatan 1% output di sektor pertanian dapat mengurangi jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sedikit di atas 1%. Sedangkan persen pertumbuhan yang sama di sektor industri dan jasa hanya mengakibatkan pengurangan kemiskinan sebesar 0,25-0,3%

E.                 BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
1.         Indikator Kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang dibagi menjadi dua kelompok pendekatan, yaitu axiomatic dan stochastic dominance. Yang sering digunkan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur, yaitu:
·         The Generalized Entropy (GE)
·         Ukuran Atkinson
·         Koefisien Gini
Yang biasanya digunakan adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini berada pada 0-1 yang berarti:
·         Jika nilainya 0 = kemerataan sempurna (setiap orang mendapat jumlah yang sama dari pendapatan)
·         Jika nilainya 1 – ketidakmerataa yang sempurna dalam pembagian pendapatan

2.         Indikator Kemiskinan
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum pangan dan bukan pangan (BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum pangan digunakan patokan 2.100 kalori per hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan pangan meliputi pengeluaran untuk sandang, papan, serta aneka barang dan jasa.
BPS menggunakan dua macam pendekatan, di antaranya:
·         Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampun dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar
·         Pendekatan Head Count Index (HCI)
Jumlah dan persentase penduduk miskin yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line)

F.                 KEMISKINAN DI INDONESIA
Berikut merupakan perkembangan tingkat kemiskinan yang terjadi di Indonesia yang dilihat dari jumlah penduduk miskin pada setiap tahunnya baik di daerah kota maupun desa serta persentasenya.
TABEL JUMLAH DAN PERSENTASE
PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA
TAHUN 1996 – 2008
Tahun
Jumlah Penduduk Miskin (juta)
Persentase penduduk miskin (%)
Kota
Desa
Total
Kota
Desa
Total
1996
9.42
24.59
34.01
13.39
19.78
17.47
1998
17.60
31.90
49.50
21.92
25.72
24.23
1999
15.64
32.33
47.97
19.41
26.03
23.43
2000
12.30
26.40
38.70
14.60
22.38
19.14
2001
8.60
29.30
37.90
9.76
28.84
18.41
2002
13.30
25.10
38.40
14.46
21.10
18.21
2003
12.20
25.10
37.30
13.57
20.23
17.42
2004
11.40
24.80
36.20
12.13
20.11
16.66
2005
12.40
22.70
35.10
11.68
19.98
15.97
2006
14.49
24.81
39.30
13.47
21.81
17.75
2007
13.56
23.61
37.17
12.52
20.37
16.58
2008
12.77
22.19
34.96
11.65
18.93
15.42
Sumber:  Badan Pusat Statistik
Berdasarkan data yang didapat oleh Badan Pusat Statistik, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia bisa dikatakan bahwa pada tahun 1998, Indonesia mengalami tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, namun tingkat tersebut terus menurun hingga tahun 2001 dan terjadi fluktuasi hingga tahun 2008.

G.                FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN
Menurut Kartasasmita (1996) dijelaskan bahwa penyebab terjadinya kemiskinan disebabkan oleh berbagai faktor yang diantaranya sebagai berikut:
·         Rendahnya tingkat pendidikan, yang menyebabkan pengembangan diri yang terbatas
·         Rendahnya tingkat kesehatan, di mana tingkat kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan daya tahan fisik, daya pikir, serta prakarsa menjadi rendah pula. Akibatnya, yaitu bargaining position mereka dalam hampir seluruh kegiatan ekonomi menjadi lemah
·         Terbatasnya lapangan kerja, selama lapangan pekerjaan atau kegiatan usaha masih adam harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan masih dapat dilakukan
·         Kondisi keterisolasian, dalam kondisi terpencil atau terisolasi penduduk akan kurang mampu menjalankan roda perekonomiannya
Dan tentunya, beberapa faktor lainnya seperti:
·         Kurangnya dukungan/perhatian dari pemerintah
·         Rendahnya tingkat produktivitas
·         Kurangnya kualitas sumber daya manusia
·         Penggunaan teknologi yang masih kurang
·         Kemiskinan merupakan suatu budaya

H.                KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN
Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB, ILO, UNDP, dan lembaga lainnya.
Pada tahun 1990, Bank Dunia melalui lapoorannya yaitu World Development Report on Proverty menyatakan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front, yaitu:
(i)            Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi kelompok miskin
(ii)          Pengembangan Sumber Daya Manusia (pendidikan, kesehatan, gizi) yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik yang untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi
(iii)        Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mampu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi secara fisik
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang dapat dibagi berdasarkan waktunya, yaitu:
1.      Intervensi Jangka Pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan perekonomian pedesaan
2.      Intervensi Jangka Menengah dan Panjang, yang terdiri dari:
a.       Pembangunan sektor swasta
b.      Kerjasama regiona;
c.       APBN dan adminstrasi
d.      Desentralisasi
e.       Pendidikan dan Kesehatan
f.       Penyediaan air bersih dan pembangunan pedesaan

REFERENSI:

·         https://id.wikipedia.org/wiki/Garis_kemiskinan
·         http://alvianfirman.blogspot.co.id/2015/04/definisi-kemiskinan-penyebab-dampak-dan.html




Selasa, 24 Mei 2016

Etika dalam Media Sosial



ETIKA DALAM MEDIA SOSIAL

Ref: http://www.aktual.com/tanpa-redaktur-siapa-penanggung-jawab-media-sosial/

                Siapa yang tidak mengenal kata “sosial media”? Tentunya hampir semua orang sering mendengar kata tersebut, bahkan kata tersebut merupakan salah satu rutinitas yang dilakukan oleh masyarakat. Namun apa sih itu sosial media? Adakah dampaknya bagi perekonomian? Berikut penjelasannya
                Media sosial sendiri adalah sebuah media komunikasi yang berbasiskan internet dan biasanya menggunakan platform semacam aplikasi sehingga memudahkan penggunanya dalam berinteraksi secara jarak jauh. Dalam zaman globalisasi ini, peran media sosial sangatlah tinggi mengingat perkembangan teknologi yang semakin maju. Awalnya media sosial dibuat hanya untuk berkomunikasi antara satu pengguna dengan lainnya, namun kini fitur yang disediakan beberapa media sosial semakin canggih, mulai dari multi chat, video call, share timeline, dan sebagainya.
                Di Indonesia sendiri pengguna media sosial cukup tinggi, dikatakan bahwa sekitar 70 juta masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet dan 90% di antaranya aktif dalam media sosial. Namun sering kita tak sadari, bahwa penggunaan media sosial memiliki dampak positif yang diantaranya yaitu memudahkan kita mencari informasi dan berkomunikasi membagi pengalaman, bahkan media sosial ini dapat digunakan sebagai lapak berbisnis. Namun, ada beberapa dampak negatif yang dapat terjadi dalam media sosial, diantaranya kadang terjadinya persaingan yang bersifat individualis dan tindakan kriminal atau yang dikenal dengan istilah “cybercrime”, bahkan ada pula penindasan melalui dunia maya yang dikenal dengan istilah “cyberbully”.
                Bicara mengenai dunia maya dan media sosial, tentunya dalam menggunakan media sosial dibutuhkan beberapa etika sehingga akan mencegah terjadinya hal-hal yang diinginkan, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Berikut etika yang perlu kita lakukan dalam menggunakan media sosial:
        1.       Hati-hati dengan identitas diri
Berhati-hatilah dalam memasukkan identitas diri, pastikan tidak memberitahukan semua hal pribadimu di media sosial.
        2.       Gunakan bahasa yang baik dan benar
Nah hal ini terkadang sering diremehkan oleh netizen (pengguna internet), coba deh untuk menggunakan bahasa yang baik & benar sehingga menghindari kesalahpahaman.
        3.      Pastikan kebenaran dari artikel
Terkadang, ada beberapa orang yang suka memposting atau meng-share sebuah artikel atau semacam giveaway. Tapi sebelum itu, pastikan kebenaran dari artikel itu apakah fakta atau hanya sebuah kebohongan atau HOAX. Sebelum mau ngeshare, coba diperhatikan lagi yaa..
        4.      Jangan memulai pertengkaran di sosmed
Nah yang satu ini sering juga terjadi di sosmed, apalagi kalau sedang membahas suatu topik, pasti ada yang di sudut pro maupun kontra. Nah, sebagai pengguna sosmed yang pintar, ada kalanya kita di sudut manapun pastikan untuk tidak memulainya dengan bertengkar, kan malu dilihat banyak netizen
        5.      Jangan terlalu update/menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi atau “curhat”
Dalam sosmed, tidak ada salahnya sih kita sedikit “curhat” namun jangan terlalu berlebihan, bisa-bisa orang-orang pada salah menilai
        6.      Mencantumkan referensi apabila memposting suatu artikel atau gambar
Yang satu ini perlu diperhatikan, pastikan dalam memposting suatu artikel atau gambar, masukkan referensi atau hak cipta dari artikel/gambar. Kalo tidak, bisa-bisa dianggap plagiat atau melanggar hak cipta.
        7.      Jadilah dirimu sendiri
Gunakan sosmed sebaik mungkin, dan pastikan tidak terlalu mengedit profile picture-mu, atau memasang status yang sangat berbeda dengan kehidupanmu. Hal ini tentunya mengundang kriminalitas bahkan penindasan, jadi sebaiknya berhati-hati.
         8.      Sebelum beropini, kenali faktanya dulu
Ada baiknya kita mengetahui fakta dari suatu bahasan, sehingga kita tidak salah menilai atau beropini tentang suatu hal.

Nah, berikutlah etika yang harus dilakukan dalam menggunakan media sosial, namun adakah hubungan media sosial dengan perekonomian?
Meskipun demikian, media sosial mempunyai peran penting dalam perekonomian di antaranya sebagai berikut:
        1.       Menciptakan lapangan kerja
        2.       Memudahkan dalam mencari informasi
        3.      Memudahkan dalam berkomunikasi
        4.      Memudahkan dalam memasarkan produk/jasa

Seperti itulah beberapa penjelasan etika dalam media sosial dan hubungannya dengan perekonomian. Meskipun tidak terlalu berpengaruh, namun terkadang media sosial bisa menjadi keuntungan bagi suatu perekonomian, atupun kerugian. Jadi, intinya gunakan sosial media dengan sebaik mungkin sehingga tidak menimbulkan suatu keributan yang bersifat meluas.